Komite Dewan Pendidikan Angkat Bicara Terkait SKPI yang Jadi Sorotan Masyarakat

Redaksi
IMG 20210703 WA0018
0 0
Read Time:3 Minute, 2 Second

Cyberinvestigasi.com, 3 Juli 2021, Pandeglang – Beredarnya kelengkapan persyaratan salah satu Bakal Calon Kades Sodong, Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang yang telah menggunakan Surat Keterangan Pengganti Ijazah (SKPI) menjadi pergunjingan di kalangan masyarakat, bahkan hal tersebut juga terekspose dalam pemberitaan media online.

Kalangan masyarakat menduga terbitnya SKPI merupakan hasil rekayasa oknum Bacalkades yang bekerjasama dengan oknum tertentu dalam institusi terkait.

Dugaan masyarakat bukan tanpa alasan, karena lembaga sekolah yang menerbitkan SKPI tidak dapat menunjukan data- data siswa kelulusan angkatan tahun 1986, sebagai dasar dijadikannya bukti otentik guna menguatkan terbitnya SKPI tersebut.

Hal itu diketahui setelah awak media menemui dan meminta keterangan kepada Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Saketi 1, pekan lalu.
Sabtu, (03-07-2021).

Menurut keterangan Salah satu pihak sekolah dihadapan awak media, mengaku, bahwa pihak sekolah sama sekali tidak memiliki data siswa angkatan tahun 1986,

” Di Sekolah tidak ada data siswa tahun 1986, pak,” kata Mamad.

Ketika ditanyakan apa landasan atau dasar pihak sekolah menerbitkan SKPI ? Mamad mengatakan, SKPI diterbitkan berdasarkan dari adanya keterangan kehilangan yang diterbitkan pihak kepolisian, dan didukung oleh keterangan dua orang saksi ED dan ML selaku teman satu angkatan SJ”,
Bukan saja itu kata Mamad, terbitnya SKPI juga hasil rekomendasi dari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang.

“SKPI memang di tanda tangani saya selaku Kepala Sekolah dan mendapat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang.
Semua sudah melalui prosedur yang ada, karena terbitnya SKPI berdasarkan dari adanya surat keterangan kehilangan kepolisian ditambah dengan kesaksian dua orang teman satu angkatan yang lulus tahun 1986,” jelas Kepsek SMPN Saketi.

Penelusuran awak media JNI menemukan banyak keganjilan dan kejanggalan dari terbitnya SKPI.
Yang pertama, keterangan SJ dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian, dimana SJ kali pertama membuat Laporan Polisi pada tahun 2007, menerangkan kalau dirinya lulus pada tahun 1984/85. Sementara Laporan Polisi Tahun 2021, dalam Surat keterangan kehilangan tersebut mengaku kalau dirinya lulus tahun 1983/84, dan pihak sekolah dalam SKPI itu menerangkan kelulusan SJ adalah tahun 1986.

Dari keterangan yang berbeda – beda sudah dapat dikuatkan kalau SKPI diduga Asli tapi Palsu alias Aspal.

Selain itu hasil investigasi awak media JNI, juga menjelaskan bahwa menurutnya telah ditemukan juga pengakuan yang berbeda dari masyarakat sekitar, dan bahkan dari beberapa alumnus siswa SMPN Saketi kelulusan Tahun 1986, yang mengatakan kalau mereka semasa sekolah dulu tidak mengenal SJ.

“Saya lulus angkatan tahun 1986, tapi saya juga tidak banyak tau dan mengenal SJ, mungkin bisa jadi beda kelas, walaupun demikian sebenarnya masalah ini bisa selesai andai data siswa tahun 1986 ada di sekolah,” ujar sumber yang mengaku alumni SMPN Saketi 1 Tahun 1986, namun dirinya enggan disebut namanya di media.

Sementara disesalkan ED, yang namanya tercantum sebagai saksi terbitnya SKPI dan mengaku teman satu angkatan dengan SJ di SMPN Saketi 1, ketika hendak dikonfirmasi awak media, melalui sambungan telphon selularnya, bahkan melalui pesan WhatsApp, yang bersangkutan tidak dapat dihubungi dan tak menjawab atau membalas pesan WA tersebut.

Menanggapi hal tersebut, baru -baru ini, Komite Dewan Pendidikan Kabupaten Pandeglang, Eka S kepada awak media turut menyesalkan hilangnya data siswa di sekolah yang bersangkutan.

Bahkan Eka meminta pihak media untuk terus melakukan investigasi lebih mendalam, agar persoalan ini terang benderang dan tidak menimbulkan konflik dan polemik ditengah masyarakat.

“Masalah ini jika benar SKPI itu katakanlah Bodong, jelas ini sudah masuk ranah pidana, dan siapapun pihak – pihak yang terlibat dalam penerbitan SKPI tersebut dapat dikenai sanksi pidana atas dugaan pemalsuan dokumen,” ungkap Eka seraya menambahkan.
Pihak sekolah semestinya mencari dan memperoleh kembali data siswa yang hilang itu.

“Harusnya sekolah ada dong data siswa itu, bagaimana jika ada siswa angkatan tahun 1986, yang akan menyelenggarakan Reuni, kan biasanya akan mencari nama – nama siswa ke sekolah yang bersangkutan,” pungkasnya.

Cyber-Red
(Dede)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Dukungan Moril Buat Masyarakat Danrem 061-Sk Kontinu Pantau Pelaksanaan Vaksinasi Masal

Cyber investigasi.com, 03 Juli 2021, Bogor – Danrem 061/SK Brigjen TNI Achmad Fauzi S.I.P.,M.M., memantau kegiatan serbuan vaksinasi Covi d-19 di Mako Yonif 315/Grd, Sabtu (03/07/2021). ” Hari ini Sabtu dan besok Minggu, kami tetap melaksanakan kegiatan Vaksinasi Covid-19. Jika kemarin di sini kami telah berhasil memberikan vaksinasi kepada 500 […]
IMG 20210703 WA0042

Subscribe US Now