Menko Polhukam Tegaskan: Ada 2 Produk Dalam UU ITE yang Tidak Akan di Cabut

Redaksi
IMG 20210612 122511
0 0
Read Time:3 Minute, 45 Second

Cyberinvestigasi.com, 12 Juni 2021, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Moh. Mahfud MD menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tidak akan dicabut.
Akan tetapi, berdasarkan hasil Tim Kajian UU ITE yang dilakukan Kemenko Polhukam, ada dua produk untuk memenuhi arahan Presiden terkait dengan revisi UU ITE.

“Pada tanggal 15 Februari, Presiden berpidato agar dilakukan kajian ulang”,
Pertama harus ada pedoman implementatif agar tidak dimain-mainkan seperti karet.
Kedua, supaya dikaji mungkin substansinya memang kurang tepat, maka berdasar itu, Menko Polhukam membentuk tim yang dipimpin oleh Deputi III, Sugeng Purnomo, yang kemudian melakukan telaah, yang hasilnya UU ITE tidak akan dicabut.

“Kesimpulan ini diperoleh sesudah kita melakukan FGD dengan tidak kurang dari 50 orang akademisi, praktisi hukum, NGO, korban UU ITE, pelapor UU ITE, politisi, jurnalis baik perorangan maupun organisasi. Tetapi juga ada dua (2) produk untuk memenuhi arahan Presiden itu,” ujar Menko Polhukam Mahfud MD di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat kemarin, (11/6/2021).

Pertama, adanya Surat Keputusan Bersama yang akan dikeluarkan oleh Menkominfo, Jaksa Agung dan Kapolri, yang isinya pedoman implementasi kriteria-kriteria agar sama berlakunya bagi setiap orang.
Kedua, akan dilakukan revisi terbatas, sifatnya semantik tapi substantif uraiannya.

“Misalnya masalah kekusilaan yang disebut di dalam Pasal 27 ayat (1). Sekarang ditegaskan pelaku yang dapat dijerat oleh Pasal 27 ayat (1) UU ITE terkait dengan penyebaran konten keasusilaan adalah pihak yang memiliki niat menyebarluaskan untuk diketahui oleh umum.
Jadi bukan yang melakukan keasusilaan, tetapi yang menyebarkan itu yang kena.
Jadi kalau orang cuma bicara mesum, membuat gambar-gambar melalui elektronik tetapi dia bukan penyebarnya itu tidak apa-apa.
Dia bisa dihukum tetapi bukan dengan UU ITE, ada UU nya sendiri misalnya UU Pornografi,”kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Kedua, misalnya pencemaran nama baik dan fitnah seperti diatur pasal 27 ayat (3). Di dalam usul revisi, dibedakan norma antara penyebaran nama baik dan fitnah sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50.PU.6.2008 termasuk perubahan ancaman pidananya, diturunkan.

“Misalnya ada yang terbukti benar “Pak Mahfud itu dipunggungnya banyak tato, itu dulu adalah anggota preman”. Sesudah diperiksa tidak terbukti, itu namanya fitnah.
Tapi kalau diperiksa betul ada tato itu namanya pencemaran, ghibah, bisa dihukum.
Kalau tidak terbukti namanya fitnah, tapi kalau terbukti namun saya tidak tenang cerita itu didengar orang lain, maka bisa dihukum juga,”kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Selain itu, ada delik aduan bahwa pihak yang menyampaikan pengaduan dalam pencemaran, fitnah, menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menggunakan sarana ITE hanya korban yang boleh menyampaikan pengaduan.

Menko Polhukam mencontohkan, misalnya ada orang menghina seorang profesor menyangkut pribadi, yang boleh mengadu hany profesor atau kuasa hukumnya, bukan orang lain yang tidak ada kaitannya.

“Sekarang menurut Surat Edaran Kapolri dan kita adopsi di sini harus orang yang langsung menjadi korban yang melaporkan itu,”kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Kemudian pemerasan atau pengancaman, Pasal 27 ayat (4). Dalam usul revisi dipertegas normanya dengan menguraikan unsur ancaman pencemaran, ancaman akan membuka rahasia, memaksa seseorang supaya memberikan barang seluruhnya atau sebagian kepunyaannya itu, supaya misalnya membuat pernyataan hutang yang dilakukan dengan menggunakan sarana eletronik. Sekarang jadi diurai agar tidak menjadi pasal karet.

Terakhir terkait ujaran kebencian, Dalam UU ITE normanya hanya menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat berdasar SARA.
Dalam revisi dipertegas dengan norma bukan hanya menyebarkan masalah SARA tetapi menghasut, mengajak, atau mempengaruhi ketika dia menyebarkan informasi itu.

“Kalau cuma menyebarkan tanpa niat, ini tidak bisa.
Itu semua ditujukan untuk menimbulkan rasa benci, atau permusuhan terhadap individu atau kelompok masyarakat berdasarkan SARA,” kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Sementara itu, Ketua Tim Kajian UU ITE Kemenko Polhukam Sugeng Purnomo mengatakan hasil kesimpulan ini merupakan konsep yang diusulkan oleh tim.

Ditegaskan bahwa hasil ini dibuka dengan harapan mendapat berbagai masukkan untuk perbaikannya.

“Kalau misalnya masuk di dalam Prolegnas Prioritas dan kita lakukan pembahasan setelah revisinya bisa diterima, maka akan ada tahapan-tahapan berikutnya yaitu pembahasan di antara Kementerian dan Lembaga, kemudian kita akan mengundang berbagai pihak untuk memberikan masukkan,” kata Sugeng Purnomo.

“Jadi sekali lagi usulan revisi yang disusun oleh tim kajian ini bukan harga mati, namun ini adalah tim yang berusaha menyusun seperti ini kalau melakukan revisi, apakah memungkinkan untuk berubah? Sangat memungkinkan, tentunya dengan berbagai masukan dan argumentasi. Yang pasti tentunya revisi ini dilakukan semata-mata untuk menimbulkan rasa keadilan di masyarakat yang saat ini banyak pihak mengatakan terjadi diskriminasi, tidak adil dan lain-lain,” sambungnya yang juga Deputi Koordinasi Bidang Hukum dan HAM Kemenko Polhukam.

Cyber-Red
(M.s.)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Menindak Lanjuti Intruksi Kapolri Polres Lebak Gelar Operasi Premanisme dan Pungli

Cyberinvestigasi.com, 12 Juli 2021, Lebak – Guna menindak lanjuti Instruksi Kapolri, Polres Lebak Polda Banten menggelar operasi Premanisme dan Pungli di Daerah Hukum Polres Lebak. Sabtu, (12/6/2021). “Ya menindaklanjuti instruksi Kapolri, kami Jajaran Polres Lebak menggelar operasi Premanisme dan giat Pungli yang meresahkan masyarakat di daerah hukum Polres Lebak” Ujar […]
IMG 20210612 WA0020

Subscribe US Now