Akhirnya Polri Berhasil Bongkar Motif Penipuan Rapid Test Internasional dari Rutan Serang

Redaksi
0 0
Read Time:2 Minute, 16 Second

cyberinvestigasi.com, 18 Desember 2020 Jakarta – Penyidik Bareskrim Polri menyatakan warga negara Nigeria Udeze Celestine Nnaemeka alias Emeka yang menjadi pelaku utama penipuan alat tes cepat Covid-19 senilai Rp 276 miliar mengendalikan kejahatannya dari Rumah Tahanan (Rutan) Serang, Banten.

“Saat ini diketahui Emeka mendekam di Rutan Serang, Banten, karena terlibat dalam kasus penipuan,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol. Helmy Santika di Jakarta, pada Rabu kemarin, (16/12/2020).

Helmy, dirinya juga menuturkan bahwa penyidik Dittipideksus Bareskrim Polri telah bergerak cepat untuk membongkar jaringan penipu internasional dengan modus Business Email Compromise (BEC), dengan nilai kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

“Pengungkapan itu membutuhkan waktu relatif cepat, atau sebulan dalam kasus penipuan terkait dengan alat medis untuk Covid-19 dengan korban warga negara dari beberapa negara, yaitu Italia, Jerman, dan Belanda, serta terkait dengan kasus transfer dana dan investasi dengan korban WN Argentina dan Yunani dengan total nilai kerugian Rp 276 miliar.

Pasalnya, kasus itu berawal pada tanggal 3 November 2020. Ketika itu Divisi Hubinter Polri menerima informasi dari Interpol Belanda terkait dengan kasus operandi BEC di Indonesia sejak 2018 hingga 2020,” tutur Helmy.

Dalam kasus tersebut, Polri menangkap tersangka Dani yang bertugas mengambil dana valas dan Hafiz yang bertugas untuk membuat dokumen fiktif serta seolah-olah menjadi direktur perusahaan.

Untuk berlanjutnya, selain dari dua tersangka itu, polisi juga menyatakan dua WNI, yakni Herman dan Nurul alias Iren, sebagai buronan karena turut membantu terjadinya aksi penipuan.

Helmy mengatakan, bahwa para tersangka melakukan kejahatan itu dengan mengirim e-mail palsu yang memberitahukan tentang perubahan nomor rekening perusahaan terkait dengan pembelian tes cepat Covid-19 yang telah dipesan oleh perusahaan Belanda, yaitu senilai 3.597.875 dolar AS atau senilai Rp 52,3 miliar yang diminta untuk dikirim ke perusahaan fiktif tersangka, CV SD Biosensor Inc.

Sejauh ini, kata Helmy, pihaknya telah mengungkap penipuan internasional modus e-mail bisnis yang dilakukan komplotan WNA asal Nigeria itu sebanyak lima kasus lintas negara.
Tiga kasus di antaranya terkait Covid-19, sedangkan dua kasus terkait transfer dana dan investasi.

“Untuk kasus yang di Belanda, kami dapat laporan di awal November dan langsung melakukan penyelidikan dan berhasil diungkap,” kata jenderal bintang satu itu.

Menurut dia, total kerugian yang dilakukan oleh para tersangka mencapai Rp 276 miliar.
Namun sementara itu pihak Bareskrim Polri hanya menyita uang tunai sebanyak Rp 141,6 miliar.
Kemudian, dari hasil kejahatan itu, para tersangka memanfaatkan hasil kejahatannya dengan membeli valuta asing, aset, tanah, mobil, dan rumah.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 56 KUHP dan Pasal 3 dan/atau Pasal 4 dan/atau Pasal 5 dan/atau Pasal 6 dan/atau Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang tentang Perasuransian, Tutupnya”.

Cyber/Red
Mpap s

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Next Post

Disdukcapil Takhanya Layani WNI Juga Legalkan WNA Dengan Penerbitan SKTT

cyberinvestigasi.com, 18 Desember 2020, Kota Serang – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ( Disdukcapil ) Kota Serang berikan pelayanan penerbitan Surat Keterangan Tempat Tinggal ( SKTT ) bagi orang asing atau WNA ( Warga Negara Asing ). Di Kesempatannya, Kepala Disdukcapil Kota Serang Mamat Hambali, telah mengatakan bahwa Disdukcapil berkewajiban […]
IMG 20201218 WA0002

Subscribe US Now